Blog Detail

5 UI/UX Mistakes Startups Should Avoid (And How to Fix Them)
Branding & Creativity 3 min read

5 UI/UX Mistakes Startups Should Avoid (And How to Fix Them)

Admin

Admin

Author

Banyak startup gagal bukan karena idenya buruk, tetapi karena produk mereka sulit digunakan. UI/UX sering dianggap urusan “nanti”, sesuatu yang bisa diperbaiki setelah produk jadi. Pola pikir ini keliru. Dalam tahap awal, desain justru berperan besar menentukan apakah pengguna bertahan atau pergi dalam hitungan menit pertama.

Kesalahan paling umum adalah membangun desain berdasarkan asumsi internal, bukan perilaku pengguna nyata. Tim merasa sudah “tahu” apa yang dibutuhkan user, lalu langsung mengeksekusi tanpa validasi. Akibatnya, alur aplikasi terasa membingungkan, fitur penting tersembunyi, dan pengguna dipaksa menyesuaikan diri dengan logika produk—bukan sebaliknya. Perbaikannya bukan sekadar mengubah layout, melainkan mengubah cara berpikir: desain harus berangkat dari observasi, pengujian sederhana, dan feedback cepat, bahkan jika skalanya masih kecil.

Masalah berikutnya muncul ketika startup terlalu ambisius di awal. Semua fitur ingin dimasukkan sekaligus, semua kemungkinan ingin diakomodasi. Hasilnya adalah antarmuka yang penuh, tidak fokus, dan melelahkan. Pengguna baru tidak tahu harus mulai dari mana. Solusinya bukan memangkas ide, melainkan memprioritaskan. Produk awal seharusnya menjawab satu masalah utama dengan sangat baik. Desain yang baik membantu pengguna menyelesaikan satu tujuan jelas, bukan menunjukkan betapa kompleksnya sistem di balik layar.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah mengejar estetika tanpa mempertimbangkan kegunaan. Animasi berlebihan, warna terlalu kontras, atau layout yang terlihat “keren” di mockup tetapi tidak praktis saat digunakan sehari-hari. UI yang baik memang harus menarik, tetapi UX menuntut lebih dari sekadar visual. Perbaikannya terletak pada disiplin desain: setiap elemen harus punya alasan fungsional. Jika sebuah efek visual tidak membantu pemahaman atau efisiensi pengguna, besar kemungkinan itu hanya distraksi.

Banyak startup juga mengabaikan konsistensi. Tombol yang berubah-ubah gaya, istilah yang berbeda untuk fungsi yang sama, atau pola interaksi yang tidak seragam antar halaman membuat pengguna harus terus belajar ulang. Ini meningkatkan beban kognitif dan menurunkan kepercayaan terhadap produk. Konsistensi bukan soal kaku, melainkan soal prediktabilitas. Dengan pola yang konsisten, pengguna merasa lebih cepat “menguasai” aplikasi, meskipun fitur di dalamnya cukup kompleks.

Kesalahan terakhir yang sering diremehkan adalah tidak mengukur dan tidak memperbaiki. UI/UX dianggap selesai begitu produk dirilis. Padahal, desain yang baik bersifat iteratif. Tanpa data penggunaan, tanpa pengamatan perilaku user, dan tanpa evaluasi berkala, produk akan stagnan. Perbaikannya sederhana secara konsep, meski menuntut komitmen: perlakukan desain sebagai proses berkelanjutan. Setiap rilis adalah kesempatan belajar, bukan titik akhir.

Pada akhirnya, UI/UX bukan sekadar lapisan visual, melainkan strategi produk. Startup yang serius pada desain sejak awal memiliki peluang lebih besar untuk membangun produk yang dipakai, dipercaya, dan direkomendasikan. Menghindari kesalahan-kesalahan dasar ini bukan soal menjadi sempurna, tetapi soal memberi pengguna alasan untuk bertahan.

Related Topics